Diposkan pada Derah, News, STORY, Wisata

Perayaan Maulid Nabi di Kampungku-Budaya membuat Panjang yang unik


Pada hari sabtu tanggal 13 Rabiul Awal 1439 H/02 November 2017 telah diperingatinya maulid nabi muhammad SAW di kampung Cipicung Desa Cisitu Kec. Ciomas yang merupakan tempat lahirku. acara peringatan hari besar islam  tersebut dihadiri oleh para sesepuh, ulama, tokoh masyarakat dan undangan dari kampung-kampung tetangga. acara tersebut diisi dengan acara keislaman, ada pembacaan kalam ilahi, siraman rohani dsb.

Satu hal unik adalah adanya budaya dimana setiap rumah membuat sebuah panjang, panjang ini biasa terbuat dari kayu  dan bambu yang dibuat replika mobil, hewan, pesawat, golok dan yang lainnya.

 

panjang tersebut dihias, diisi sembako,  makanan kue, uang lembaran  dan yang lebih unik dihias juga dengan bunga telor (yaitu telur rebus yang dihias

menggunakan sipon/kertas berwarna), sehingga membuatnya terlihat cantik dan menarik.panjang tersebut diarak dengan diiringi musik rebana, kalau biasa orang sini sebut band kepel.

 

Acara ini adalah bukti kecintaan warga cipicung/ciomas terhadap baginda kita Nabi Besar Muhammad SAW.

 

 

Iklan
Diposkan pada News, Sejarah dan Kebudayaan, Wisata

Mengerikan Tapi menarik Melihat Atraksi Debus Khas Banten


atraksidebus

Tanjung Lesung – Selain pantainya yang cantik, liburan ke Banten bisa menikmati atraksi wisata yang bernuansa budaya. Apalagi kalau bukan seni debus yang ngeri-ngeri sedap!

Banten dikenal dengan beragam sebutan, satu yang paling bikin merinding adalah sebutan Banten sebagai Tanahnya Para Pendekar. Setiap menyebut orang Banten, pasti yang terbayang adalah kesaktian yang dia miliki.

Bukan tanpa sebab,seni beladiri maupun debus memang dilestarikan secara turun temurun dari para jawara Banten. Dihimpun detikTravel, Kamis (1/9/2016), seni debus sudah dianggap mendarah daging bagi masyarakat Banten.

Atraksi debus bisa ditonton di berbagai wilayah di Banten, termasuk di Tanjung Lesung. Meski pada awalnya terkesan mengerikan, tetapi sesungguhnya debus adalah suatu bentuk seni olah tubuh, jiwa dan raga yang bisa membuatnya kebal akan berbagai macam bentuk senjata tajam, hingga api sekalipun.

Itulah sebabnya ketika seni debus ditampilkan, banyak pemainnya yang melakukan aksi-aksi ekstrem yang begitu mengerikan. Dari mulai menusuk perut sendiri dengan tombak atau senjata tajam lainnya, mengiris-iris tubuh dengan golok atau pisau, hingga memakan api.

Seni debus (dok detikNews)

silat
Semuanya dilakukan pemain debus dengan tanpa merasakan apa-apa, sakit pun tidak, seperti sudah kebas atau kebal. Tidak sedikitpun kita akan melihat darah menetes dari para pemain debus. Padahal, jika orang biasa tanpa keterampilan khusus yang mencoba aksi ini, bisa-bisa masuk rumah sakit hingga berminggu-minggu lamanya.

Sejarah kesenian Debus dipercaya sudah ada sejak abad ke-16 di Banten. Dari asal katanya, debus disebut berasal dari jazirah Arab dari kata Dablus yang berarti besi runcing. Debus diperkenalkan di masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin sebagai salah satu cara penyebaran agama Islam.

Meski pada dasarnya, permainan-permainan yang ditampilkan sepanjang pertunjukan debus digelar, sering juga ditampilkan pada upacara tradisi Syaman, alias upacara pemanggilan roh di beragam kebudayaan di dunia. Debus juga dikenal di upacara perayaan Cap Go Meh Singkawang, dengan nama tatung.

Atraksi debus dari Banten (dok detikNews)

Namun di Banten, debus sudah mengalami akulturasi budaya sehingga saat ini dikenal sebagai seni bela diri yang identik dengan ajaran Islam. Bahkan sebelum dimulai, para pemainnya berzikir serta mengucapkan puji-pujian bagi Allah dan Nabi Muhammad SAW, agar acaranya dilancarkan dan tidak mengalami kendala apapun.

Atraksi debus biasanya dipentaskan dengan iringan musik-musik tradisional. Dari mulai mengiris-iris tangan pakai golok, mengupas kelapa pakai gigi, makan kaca dan beling, hingga berjalan di atas api, semuanya dilakukan bergantian.

Pemain debus pun bukan hanya dari kalangan laki-laki saja, wanita pun bisa. Asalkan kuncinya berserah diri pada Allah, dan berpedoman pada Al Quran niscaya akan mendapat perlindungan. Meski sarat akan nuansa mistis, namun sejatinya debus adalah bentuk kebudayaan dari Banten yang wajib dilestarikan

Pemain debus ini cantik-cantik (Randy/detikTravel)
(aff/aff)

Diposkan pada Sejarah dan Kebudayaan, Wisata

Asal Muasal Suku Baduy (Urang Kanekes) Banten


Suku Baduy

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Orang kanekes/Urang kanekes atau yang sering orang bilang Baduy/Badui adalah sekelompok masyarakat dari sub-etnis sunda, yang bermukim di Provinsi Banten Tepatnya di wilayah Kabupaten Lebak, Baduy memiliki populasi sekitar 5.000 sampai 8.000 orang, suku Baduy terkenal menerapkan sistem isolasi/pengasingan dari dunia luar. Bahkan melarang untuk di Foto khusus wilaya Baduy dalam.

Asal Muasal Nama Baduy

Nama “Baduy” sendiri adalaha sebutan yang disematkan oleh penduduk luar kepada kelompok tersebut, Awalnya sih dari sebutan para peneliti yang datang dari Belanda yang menyamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yaitu masyarakat yang suka berpindah-pindah (Nomaden). Hal lain yang memungkinkan penyebutan nama baduy yaitu keberadaan sungai Baduy dan Gunung Baduy yang berlokasi di bagian utara wilayah baduy tersebut, sementara mereka sendiri lebih menyukai disebut urang kanekes atau “Orang Kanekes” sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang lebih merujuk kepada nama kampung mereka, seperti halnya urang Cibeo.

Letak Wilayah Suku Baduy

Suku baduy bermukim di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Rangkasbitung, Banten. Dari kota rangkasbitung berjarak sekitar 40 Km, wilayah kanekes adalah bagian dari pegunungan kendeng dengan ketinggian 300 – 500 m diatas permukaan laut (DPL)terebut mempunyai bentuk tofografi bergelombang dan berbukit dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45 %, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan campuran (dibagian selatan). Suhu rata-rata 200 C. Tiga desa utama orang kanekes dalam adalah Cikesik, Cikertawan, dan Cibeo.